Istana Kerajaan Lima Laras

Istana Lima Laras

Front Door

Saya berkesempatan untuk mengunjungi Istana Lima Laras di daerah Batu Bara, Sumatera Utara. Saya datang untuk bersilaturhami pasca Lebaran dengan sanak saudara. Sepupu saya, memiliki garis keturunan dari Datuk Matyoeda, Raja Kerajaan Lima Laras XII. Sehingga saya pun bisa melihat langsung sebuah Istana yang bisa dibilang hampir roboh dan tidak terawat ini.

Kerajaan Lima Laras mungkin belum pernah didengar oleh masyarakat Indonesia karena tidak pernah disinggung dalam buku pelajaran sekolah. Karenanya, melalui artikel ini saya ingin sekali memperkenalkannya kepada Anda.


Sejarah Singkat

Cikal Bakal dari kerajaan Lima Laras tidak terlepas dari Kesultanan Siak Sri Indapura di Riau. Kerajaan Lima Laras diperkirakan sudah berdiri sejak abad ke 16, namun sering berpindah-pindah dan belum memiliki istana permanen. Pada tahun 1912, Datuk Matyoeda, Raja Kerajaan Lima Laras XII berniat untuk membangun istana di Batu bara yang dikenal sebagai daerah strategis untuk perdagangan (karena berdekatan dengan Tanjung Balai yang dikuasai oleh kerajaan Asahan).

Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu melarang para raja untuk berdagang . Tidak jelas alasan larangan tersebut, namun asumsi saya karena tindakan monopoli oleh VOC. Datuk Matyoeda sendiri sering berdagang ke Malaysia (Malaka) , Singapura dan Thailand. Saat larangan tersebut diberlakukan, beberapa armada kapal beserta isinya disita oleh Belanda setibanya kembali di Asahan.

Datuk Matyoeda berniat, jika dagangan terakhirnya selamat, hasilnya akan digunakan membangun istana. Rupanya kapalnya kembali dengan selamat. Maka dia kemudian membangun istana Lima Laras.

Namun, Datuk Matyoeda sendiri hanya sebentar saja dapat menikmati istana tersebut. Ia bersama keluarga dan unsur pemerintahannya mendiami istana sejak tahun 1917 dan wafatnya pada tahun 1919, sekaligus penanda berakhirnya masa kejayaan kerajaan Lima Laras.

Keluarga Kerajaan Lima Laras pun harus terusir dari Istana pada tahun 1942 saat tentara Jepang menundukkan daerah Asahan. Dan pada saat itu pula, Kakek dari sepupu saya, yang merupakan cucu dari Datuk Matyoeda keluar dari Istana.


Bangunan Istana Lima Laras

Istana Lima Laras memiliki empat anjungan yang masing-masing menghadap ke empat arah mata angin. Dua buah meriam berada di depan bangunannya. Arsitektur melayu sangat kental, terutama pada atap dan kisi-kisi rumah panggung tersebut. Lantai bawah dan balairungnya terbuat dari Beton sementara lantai dua, tempat keluarga istana tinggal, hanya berlantaikan kayu. Terdapat beberapa kamar di lantai dua dan tiga.

Saya beruntung dapat masuk ke dalam istana di lantai dua karena berkunjung bersama para keturunan Raja Lima Laras. Namun, saya tidak bisa menemukan apapun di dalam istana untuk saya dokumentasikan. Seluruh ruangan disini kosong dan telah diamankan oleh salah seorang ahli waris kerajaan yang lain.

Jangan membandingkan istana lima laras dengan istana maimun yang megah dan penuh dengan barang-barang antik yang mahal. Istana lima laras sendiri kondisinya sangat tidak terawat. Bangunan ber cat kayu warna hijau yang dominan ini sudah diambang kehancuran. Kayu-kayu bangunan sudah, beberapa anak tangga sudah hilang dan semak-semak setinggi orang dewasa menghiasi pekarangan.

Istana Lima Laras sendiri berada di sebuah perkampungan nelayan kecil. Akses kendaraan agak sulit karena jembatan yang menghubungkan jalan ke depan istana terputus. Saya harus berjalan kaki di jembatan kayu (satu-satunya akses yang ada) beberapa meter dari lokasi istana.

5 Comments (+add yours?)

  1. rickyarianda
    Nov 21, 2010 @ 15:02:18

    Salam kenal. saya orang batu bara

    Reply

  2. Rehmalem Tarigan
    Jun 05, 2012 @ 04:30:25

    Ternyata Batu Bara memiliki Aset Daerah yg sangat berharga:Istana Lima Laras .
    Kapan ya Istana ini berdiri megah kembali?semoga lebih cepat lebih baik,
    sebelum semakin parah rusaknya.

    Reply

  3. Vina Firmayanti
    Dec 20, 2013 @ 07:23:43

    Saya Orang BATUBARA bangga dengan kota ini

    Reply

    • Vina Firmayanti
      Dec 20, 2013 @ 07:26:34

      saya lahir di kota BATUBARA ini,
      tepatnya tanggal 17 juni 1998 di desa Guntung dekat istana 5 laras

      Reply

  4. ifwan
    Jan 13, 2014 @ 14:54:05

    wah kenapa tidak ada ya perhatian pemerintah daerah? Untuk menjaga nilai sejarah ini?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: